--- In APWKomitel@yahoogroups.com, S Roestam <sroestam@...> wrote:
Kawan-kawan Yth,
Saya ingin men-share sebuah Tips untuk mencapai keberhasilan dalam
hidup di dunia ini, sbb:
TENTANG KERJA KERAS
Kami sekeluarga, pernah mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga,
yang kebetulan tetangga kami sendiri, sebagai tenaga pencuci pakaian.
Selama belasan tahun, ia bekerja pada keluarga kami dan beberapa
keluarga lainnya secara bergiliran, dengan penuh dedikasi dan
kesetiaan.
---
[rr] pak nas... ayah saya dokter AL diSurabaya... kita waktu itu punya
2 pembantu rumah tangga... yang satu sedikit tuli dan yang satu
sedikit problem pada matanya... ini cerita 45 tahun yang lalu...
ketika saya masih SD...
ayah saya berhasil meluluskan dua pembantu ini dan masuk menjadi
AL... dengan tanggung jawabnya...soal kesehatan ini.
sekarang mereka pun sudah jadi perwira AL dan sudah pensiun dan
berkeluarga... sayang saya sudah lama ngak ketemu...
jadi yang penting memang dedikasi... tapi juga ada kesempatan...
seandainya ayah saya bukan dokter yang memeriksa ... mungkin saja
mereka tidak bisa lulus ujian kesehatan dan tidak punya uang untuk
ikut ujian... wong cuma pembantu rumahtangga.
jadi terkadang kita memang harus memberikan kesempatan... jangan
terlalu patuh pada aturan formal... misalnya 'be legal' terkadang
memang harus 'be fair' dan memberi kesempatan... akan lebih baik...
dari pada sekedar razia warnet...lalu masukkan ke sel... seharusnya
kita lebih 'humane'... lebih manusiawi dan memberikan kesempatan...
maukah kita?
---
tapi Beberapa tahun yang lalu, ia pensiun karena kendala fisik yang
dialaminya. Tangan dan kakinya tak lagi mampu bersentuhan dengan
dinginnya air untuk lebih dari beberapa menit saja. Setiap kali tangan
dan kakinya tersaput air, ia akan merasakan ngilu yang sangat luar
biasa, tak hanya di tangan dan kakinya, tapi juga di seluruh tubuhnya.
Sebagai pekerja super keras, Saya melihatnya sebagai contoh yang
sangat nyata. Kendala fisik di atas sebagai muara dari kerasnya ia
bekerja, adalah sebuah ironi tentang fenomena kerja keras.
Apakah setelah semua itu kehidupan fisiknya juga berubah? Kecuali
tentang penyakit encok dan rematiknya itu, tidak ada. Penghasilannya
selama ia bekerja hanya cukup untuk hidup hari demi hari.
Saat ia memutuskan untuk pensiun, pakaiannya tetap sama seperti saat
ia memulai profesinya dahulu. Begitu pula rumahnya, tetap sebuah
pondok
berdinding kayu dengan segala perabot yang sama. Begitu pula dengan
warung pecelnya, tetap seperti semula, bermeja reot berbangku reot,
beratap terpal plastik yang itu-itu juga.
Bagaimanakah fenomena ini bisa terjadi? Mengapakah seseorang yang
telah bekerja sedemikian keras di sepanjang hidupnya, tetap jua tak
mengalami berbagai kemajuan dan peningkatan dalam kesejahteraan?
Lihatlah sekeliling Anda, Anda juga pasti akan menemukan banyak
fenomena yang sama. Bagaimana dengan Anda sendiri? Mungkin Anda sudah
membanting tulang setengah mati sepanjang hidup Anda. Kemudian, Anda
menyadari bahwa keringat dan air mata yang bercucuran sekian lama, tak
jua membuahkan peningkatan dalam kesejahteraan. Ya, sangat mungkin
Anda
"bernasib" seperti itu.
Bagaimana dengan ini?
Seorang Bill Gates drop out dari sekolah hukum ternama, tapi kini
justru menjadi orang paling kaya di muka bumi. Akankah ia tetap
menjadi
orang paling kaya sedunia, jika ia tidak drop out? Saya yakin tidak.
Sebab sebagai sebagai pengacara, sepopuler dan setop apapun ranking
bisnisnya, tetaplah "pasarnya" lebih kecil dari dunia IT. Dan itu, tak
akan membuatnya jadi orang paling kaya sedunia.
Seorang Aa Gym, yang "tak pernah" mengenyam bersekolah di pesantren,
kini memiliki pesantren yang terhitung paling besar, sekaligus juga
menjadi konglomerat bisnis.
Atau bahkan ini?
Seorang Rasulullah SAW, adalah pebisnis tulen sebelum menjadi Rasul.
Saat menjadi Rasul, ia tidak lagi berbisnis. Apa yang terjadi?
Setengah
wilayah bumi kemudian menjadi "miliknya", separuh kekuasaan di muka
bumi "berada di tangannya", dan setengah dari kekayaan dunia "berada
di
dalam genggamannya".
Pernahkah Anda melihat orang yang santai bekerja, tapi kemudian kaya
raya? Pernahkah Anda melihat seseorang, yang hanya bekerja empat jam
sehari dan dua hari dalam seminggu, tapi berpenghasilan jauh lebih
besar dari orang lain yang pontang-panting dan babak-belur lebih dari
empatpuluh jam seminggu? Hoki? Nasib? Atau bisnis ideal?
Perhatikanlah bagaimana seorang konglomerat di dalam kesehariannya.
Sangat mungkin, Anda akan melihat mereka begitu santai dan rileks.
Waktu kerjanya mungkin akan sama seperti Anda. Begitu pula dengan jam
tidurnya. Jika Anda bekerja pada mereka, sangat mungkin Anda justru
bekerja lebih keras dari pada mereka.
Saat mereka memiliki satu perusahaan, jatah waktunya untuk berbisnis
pada perusahaan itu mungkin delapan sampai enambelas jam. Saat punya
dua perusahaan, waktunya untuk satu perusahaan mungkin akan berkurang
menjadi setengahnya.
Saat punya empat perusahaan, mungkin waktunya untuk satu perusahaan
hanya tinggal dua sampai empat jam saja. Dan saat perusahaannya sudah
mencapai ratusan, maka bisa jadi mereka hanya punya waktu lima sampai
sepuluh menit untuk setiap perusahaan.
Pada intinya, peningkatan di dalam kesuksesan dan kemajuan di dalam
bisnis, justru berasosiasi dengan makin sedikitnya waktu mereka untuk
semua upaya. Mereka makin sedikit bekerja, tapi justru makin sukses
dan
makin kaya.
Bagaimana ini?
Bagaimanakah Anda bisa memahami fenomena paradoksial seperti itu?
Mengapakah ada orang yang bekerja keras dan makin keras, tapi nasib
baik justru makin jauh berlari? Sebaliknya, mengapakah ada orang yang
lebih santai, malah makin sukses dan makin sukses lagi?
Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, apa yang akan Anda baca berikut
ini, adalah ringkasan dari sebuah buku yang berjudul "The (Shocking!)
Truth About Action". Di dalam judulnya ada kata "shocking". Itu bukan
gertak sambal. Sebab, apa yang diulas di dalamnya, memang benar-benar
akan mengguncang apapun yang Anda yakini selama ini tentang
kesuksesan.
Pada sub judulnya, bahkan dikatakan kurang lebih begini,
"Ini semua adalah tentang bagaimana dan mengapa, nyaris segala yang
Anda terima sebagai bahan pelajaran, di sepanjang hidup Anda, di
sekolah, di rumah, dan di manapun, dari guru manapun, justru membangun
tembok besar yang makin tinggi dan tebal, yang menjadi penghalang
utama
Anda mencapai kesuksesan."
Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, ulasan berikut ini bisa
memperjelas berbagai fenomena di atas. Dan seperti yang sudah Saya
ingatkan, semua ini sangat mungkin bisa membuat Anda mengalami shock
berat.
KESALAHAN MENDASAR TENTANG ACTION
Kesalahan itu adalah, Anda sudah terlanjur meyakini - di sepanjang
hidup Anda - bahwa Anda akan mencapai apapun yang Anda inginkan dengan
melakukan tindakan. Alias, Anda meyakini bahwa untuk mencapai sukses,
Anda harus bertindak.
Inilah kenyataannya:
Keyakinan Anda itu justru menciptakan yang sebaliknya.
Dalam konteks ini, Anda telah menomorduakan kekuatan pikiran. 90%
orang, ternyata bertindak dalam rangka mengkompensasi berbagai bentuk
pemikiran yang tidak tepat.
Maksudnya, nyaris setiap tindakan yang Anda lakukan selama ini, adalah
didorong oleh motivasi untuk struggle. Untuk selamat dan untuk
survive.
Artinya:
Nyaris setiap tindakan yang Anda lakukan, sumbernya adalah ketakutan,
kekhawatiran, dan keragu-raguan.
Dalam hal ini, Anda telah memaksa pikiran untuk terealisasikan dalam
bentuk nyata melalui berbagai tindakan. Jika keputusan Anda untuk
bertindak lebih dominan, maka apa yang akan menjadi fokus Anda adalah
doing. Dan Anda menjadi lupa akan satu hal, yaitu being.
Apa yang akan tercipta dari pemikiran seperti itu, adalah sesuatu yang
menyimpang dari tujuan awalnya. Anda merasa akan berbahagia dengan
menjadi kaya. Tapi yang tercipta adalah; Anda memang menjadi kaya,
tapi
tidak berbahagia.
Being, adalah syarat pertama dan paling penting di dalam proses
penciptaan.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama dalam
bentuk blue print, dan kedua saat direalisasi menjadi nyata.
Sebuah bangunan diciptakan dua kali, pertama saat di atas kertas dan
kedua saat pembangunan fisik. Di atas kertas, arsitek bangunan itu
tidak akan pernah menggambarkan proyeksi bangunan, dengan asumsi bahwa
bangunan itu akan segera roboh.
Saat Anda menggambar "blue print" di dalam kepala, Anda bisa
menggambarkan diri Anda sebagai orang yang super kaya misalnya.
Tentunya, Anda tidak akan pernah menggambarkan bahwa di samping
kekayaan itu, diri Anda juga tidak berbahagia.
Jadi, semuanya harus dimulai dengan being pada saat ini juga. Mulailah
dengan berbahagia. Peganglah itu dengan kuat. Setelah itu, barulah
Anda
mulai melangkah untuk memanifestasikan bahagia dalam bentuk "menjadi
orang kaya". Bukan sebaliknya, "pokoknya Saya mau kaya!" dan
menomorduakan bahagia.
Bukankah urutannya adalah being, doing, baru kemudian having?
Ingatlah bahwa kaya tidak sama dengan bahagia. Untuk keduanya, Anda
akan mengejar "having". Kaya sekaligus bahagia. Kaya boleh nanti, tapi
bahagia? Rugi besar jika Anda menundanya. Dan jika Anda menundanya,
maka ia akan segera terlepas dari Anda seumur hidup. Anda akan kaya,
tapi Anda tak akan pernah berbahagia. Mengapa demikian?
INILAH RAHASIANYA
Bukanlah tindakan Anda yang menciptakan sesuatu, tapi niat Anda.
Anda akan bisa meminimalisir tindakan Anda (sehingga Anda lebih santai
dan rileks), dengan berfokus pada semangat dan cita-cita - yang
dibentuk oleh niat, sampai Anda merasa sudah waktunya untuk bertindak.
Sehingga, tindakan itu nantinya tidak dilakukan dengan drive rasa
takut, kekhawatiran, dan keragu-raguan. Saya pribadi menyebut ini
dengan konsep "TUNGGULAH GONGNYA".
Bagaimana supaya kita bertindak setelah bunyi "gong" dan tidak
mendahuluinya?
Fokuslah pada apa yang Anda inginkan, dan bukan pada apa yang tidak
Anda inginkan.
Dengan fokus itu, Anda akan tahu kapan harus bertindak. Dan saat
tindakan itu dieksekusi, maka semuanya akan terasa ringan dan tidak
menjadi beban.
Di titik itulah, Anda akan berangkat dari titik departure yang benar,
yaitu bertindak bukan dengan dasar rasa takut, khawatir, ragu, atau
bahkan hanya sekedar ingin cari selamat alias struggle, melainkan
dengan dasar semangat, cita-cita, dan enjoyment. Maka, seluruh alam
semesta akan mulai mendukung Anda, dan memberi jalan yang mulus di
hadapan Anda.
UJI KELAYAKAN SEBELUM BERTINDAK
Jika Anda sudah fokus pada semangat dan cita-cita, tapi Anda masih
merasa grogi dan tidak percaya diri, Anda belum siap bertindak.
Jika Anda paksakan, semua tindakan Anda akan berubah menjadi beban.
Padahal, Anda bisa bertindak tanpa beban, tanpa penghalang, dan tanpa
rasa sakit. Sesungguhnyalah, Anda bisa bertindak nothing to lose.
Alias
Ikhlas. And that's fun of course.
Mendasarkan diri semata-mata pada tindakan, adalah tidak tepat.
Tindakan Anda harus dibarengi dengan rasa tanpa beban. Menyenangkan
dan
nothing to lose. Hanya itulah yang akan membuat lingkungan dan alam
semesta mendukung Anda.
Anda harus memperbaiki konsepsi tentang "no pain, no gain". Mengapa?
Karena "pain" Anda semestinya berproporsi benar. Memang harus ada
"pain", tapi itu tidak berarti bahwa semua bentuk "pain" harus Anda
alami terlebih dahulu. "Pain" Anda haruslah worthed dengan "gain" yang
Anda cita-citakan.
Jika Anda salah memahami konsep "no pain, no gain" ini, maka tindakan
Anda hanya akan berbentuk struggle dan cari selamat saja.
Dan:
Anytime You are struggling, You are miscreating.
Jika Anda bertindak untuk struggle dan cari selamat saja, maka Anda
akan sangat fokus pada "menghindari sesuatu". Ketahuilah, "sesuatu"
yang Anda hindari itulah yang justru akan Anda dapatkan!
Ini menjelaskan fenomena masyarakat miskin di berbagai belahan dunia,
yang terus bekerja keras siang dan malam, tapi nasibnya tidak berubah.
Mereka, sebenarnya bisa merubah nasib dengan "hanya" merubah niatnya.
Bukankah Anda juga melihat, mereka yang tadinya di bawah, memang
terbukti berubah nasibnya dengan merubah niatnya? Lihatlah perubahan
nasib pengrajin, yang tercipta karena pergeseran niat dari "mencari
sesuap nasi" menjadi "berbagi keindahan". Lihatlah pemenang Kalpataru.
Lihatlah penerima penghargaan UKM. Lihatlah fenomena Grameen Bank.
Mereka, telah merubah nasibnya dengan merubah niatnya.
Apa berikutnya?
Tindakan itu perlu, tapi ketahuilah bahwa tindakan adalah komponen
terakhir di dalam proses penciptaan.
Tindakan tidak dapat dijadikan sebagai inisiator dari hasil. Inisiasi
adalah fungsi dari being, thought, baru kemudian action. Dengan kata
lain, inisiatif-lah yang menentukan hasil. Maka, di sini Anda mungkin
perlu memperbaiki konsep tentang inisiatif. Inisiatif bukan hanya ide.
Inisiatif adalah paket lengkap dari being, thought, dan action.
Inisiatif akan menciptakan vibrasi.
Alam semesta ini adalah vibrasi. Setiap atom dan molekul alam semesta
bervibrasi. Atom dan molekul di tubuh Anda juga. Pikiran Anda juga.
Pikiran Anda punya frekuensi listrik seperti juga gelombang radio. Dan
teori modern telah membuktikan bahwa gelombang itu termanifestasi
secara fisik sebagai atom, molekul, dan partikel. Alias, punya bentuk
materi juga.
Di dalam alam semesta ini, segala sesuatu diciptakan untuk bisa saling
harmoni sehingga seimbang dan tidak hancur. Dengan harmonisasi vibrasi
itu, alam semesta bergerak dan berubah. Dengan harmonisasi itu
berbagai
proses penciptaan lanjutan berlangsung. Termasuk, apapun yang menjadi
cita-cita Anda, baik fisik maupun non fisik.
Maka sebelum bertindak, bertanyalah terlebih dahulu pada diri Anda
sendiri:
"Bagaimana Saya bervibrasi, harmoniskah dengan vibrasi alam semesta?"
"Sesuaikah dengan tujuan dari penciptaan diri Saya?"
"Sesuaikah dengan tujuan dari penciptaan alam semesta?"
Bagaimana Anda bisa mengetahui dan mengatakannya? Anda bisa mengetahui
dan mengatakannya dengan bertanya pada perasaan Anda. Lebih tinggi
lagi, bertanyalah kepada nurani dan kalbu Anda.
Apa yang Anda rasakan, akan menentukan apa yang akan Anda tarik.
Dengan hanya berfokus pada apa yang Anda inginkan sesuai perasaan,
nurani, dan kalbu Anda, maka alam semesta akan menciptakan satu set
situasi dan keadaan khusus, di mana Anda akan bisa bertindak dengan
ringan dan tanpa beban, dengan sebuah jaminan akan kesuksesan.
Setting situasi dan keadaan khusus itu, pasti tercipta bersama dengan
apapun yang menjadi niat Anda. Alias, setting itu netral sifatnya.
Begitulah hukum universalnya.
Dengan kata lain, semudah Anda jatuh, gagal, dan tidak sukses, semudah
itu pula sebenarnya, Anda bisa bangkit, berhasil, dan menuai sukses,
tanpa perlu terlalu ngoyo dan tergopoh-gopoh, apalagi kemaruk.
KESIMPULAN
Hasil Anda tidak ditentukan oleh tindakan Anda. Hasil Anda, ditentukan
oleh niat Anda.
Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.
(Ini niat Saya.)
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan semua!
--- End forwarded message ---
--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org
http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar