Emmm kl menurut saya sih kl mo sukses kerja fisik dan
pikiran ga boleh dipisahkan. Fisik dalam hal ini
skill, pikiran dalam hal ini strategi. Kl mo cepet
menghasilkan paling cepet yaitu meningkatkan volume
atau kapasitas output kita. Contoh seperti kasus
pembantu:
Dia sudah lama jadi pembantu dan tukang cuci. Trus dia
sudah dipercaya oleh bapak dan tetangga bapak. Kl
cuman mengandalkan fisik ya begitu saja ga berkembang.
Kl dia berpikir agak keras dikit. Misalkan dia
mengajukan proposal kerja sama dengan bapak untuk
mendirikan perusahaan loundry. Nasibnya pasti berubah
drastis. mungkin dimulai dengan satu mesin cuci. Dan
seterusnya paling dah tau kelanjutanya.
Satu lagi contoh yg bagus, yaitu kisah pemilik teh
botol sosro:
Beliau pertama kali jualan teh itu seperti yg kita
jumpai di pinggir jalan, ga ada beda. Memakai gerobak
trus muter keliling kota cari pembeli. karena tehnya
enak maka habis terus. Trus beliau berpikir untuk
miningkatkan kecepatan pelayanan, yaitu teh yang
beliau jual dikemas dalam botol. Usahanya terus
berkembang dan melakukan inovasi kl teh diturunkan
pHnya maka akan lebih awet. Usaha terus berkembang
samapai akhirnya beliau mendirikan pabrik teh botol
sosro.(kisah kurang lebihnya begitu, kl ada kekurangan
saya minta maaf)
Begitu pula denga om Gate, dia melindungi "produksi
masalnya" dengan UU hak cipta.
Dari bbrp kasus terlihat bahwa fisik dan otak
beriringan untuk dapat mencapai kesuksesan.
Smoga dapat menjadi inspirasi.
--- S Roestam <sroestam@indosat.net.id> wrote:
> Kawan-kawan Yth,
> Saya ingin men-share sebuah Tips untuk mencapai
> keberhasilan dalam
> hidup di dunia ini, sbb:
>
> TENTANG KERJA KERAS
>
> Kami sekeluarga, pernah mempekerjakan seorang
> pembantu rumah tangga,
> yang kebetulan tetangga kami sendiri, sebagai tenaga
> pencuci pakaian.
> Selama belasan tahun, ia bekerja pada keluarga kami
> dan beberapa
> keluarga lainnya secara bergiliran, dengan penuh
> dedikasi dan
> kesetiaan.
>
> Beberapa tahun yang lalu, ia pensiun karena kendala
> fisik yang
> dialaminya. Tangan dan kakinya tak lagi mampu
> bersentuhan dengan
> dinginnya air untuk lebih dari beberapa menit saja.
> Setiap kali tangan
> dan kakinya tersaput air, ia akan merasakan ngilu
> yang sangat luar
> biasa, tak hanya di tangan dan kakinya, tapi juga di
> seluruh tubuhnya.
>
> Sebagai pekerja super keras, Saya melihatnya sebagai
> contoh yang
> sangat nyata. Kendala fisik di atas sebagai muara
> dari kerasnya ia
> bekerja, adalah sebuah ironi tentang fenomena kerja
> keras.
>
> Apakah setelah semua itu kehidupan fisiknya juga
> berubah? Kecuali
> tentang penyakit encok dan rematiknya itu, tidak
> ada. Penghasilannya
> selama ia bekerja hanya cukup untuk hidup hari demi
> hari.
>
> Saat ia memutuskan untuk pensiun, pakaiannya tetap
> sama seperti saat
> ia memulai profesinya dahulu. Begitu pula rumahnya,
> tetap sebuah
> pondok
> berdinding kayu dengan segala perabot yang sama.
> Begitu pula dengan
> warung pecelnya, tetap seperti semula, bermeja reot
> berbangku reot,
> beratap terpal plastik yang itu-itu juga.
>
> Bagaimanakah fenomena ini bisa terjadi? Mengapakah
> seseorang yang
> telah bekerja sedemikian keras di sepanjang
> hidupnya, tetap jua tak
> mengalami berbagai kemajuan dan peningkatan dalam
> kesejahteraan?
>
> Lihatlah sekeliling Anda, Anda juga pasti akan
> menemukan banyak
> fenomena yang sama. Bagaimana dengan Anda sendiri?
> Mungkin Anda sudah
> membanting tulang setengah mati sepanjang hidup
> Anda. Kemudian, Anda
> menyadari bahwa keringat dan air mata yang
> bercucuran sekian lama, tak
> jua membuahkan peningkatan dalam kesejahteraan. Ya,
> sangat mungkin
> Anda
> "bernasib" seperti itu.
>
> Bagaimana dengan ini?
>
> Seorang Bill Gates drop out dari sekolah hukum
> ternama, tapi kini
> justru menjadi orang paling kaya di muka bumi.
> Akankah ia tetap
> menjadi
> orang paling kaya sedunia, jika ia tidak drop out?
> Saya yakin tidak.
> Sebab sebagai sebagai pengacara, sepopuler dan setop
> apapun ranking
> bisnisnya, tetaplah "pasarnya" lebih kecil dari
> dunia IT. Dan itu, tak
> akan membuatnya jadi orang paling kaya sedunia.
>
> Seorang Aa Gym, yang "tak pernah" mengenyam
> bersekolah di pesantren,
> kini memiliki pesantren yang terhitung paling besar,
> sekaligus juga
> menjadi konglomerat bisnis.
>
> Atau bahkan ini?
>
> Seorang Rasulullah SAW, adalah pebisnis tulen
> sebelum menjadi Rasul.
> Saat menjadi Rasul, ia tidak lagi berbisnis. Apa
> yang terjadi?
> Setengah
> wilayah bumi kemudian menjadi "miliknya", separuh
> kekuasaan di muka
> bumi "berada di tangannya", dan setengah dari
> kekayaan dunia "berada
> di
> dalam genggamannya".
>
> Pernahkah Anda melihat orang yang santai bekerja,
> tapi kemudian kaya
> raya? Pernahkah Anda melihat seseorang, yang hanya
> bekerja empat jam
> sehari dan dua hari dalam seminggu, tapi
> berpenghasilan jauh lebih
> besar dari orang lain yang pontang-panting dan
> babak-belur lebih dari
> empatpuluh jam seminggu? Hoki? Nasib? Atau bisnis
> ideal?
>
> Perhatikanlah bagaimana seorang konglomerat di dalam
> kesehariannya.
> Sangat mungkin, Anda akan melihat mereka begitu
> santai dan rileks.
> Waktu kerjanya mungkin akan sama seperti Anda.
> Begitu pula dengan jam
> tidurnya. Jika Anda bekerja pada mereka, sangat
> mungkin Anda justru
> bekerja lebih keras dari pada mereka.
>
> Saat mereka memiliki satu perusahaan, jatah waktunya
> untuk berbisnis
> pada perusahaan itu mungkin delapan sampai enambelas
> jam. Saat punya
> dua perusahaan, waktunya untuk satu perusahaan
> mungkin akan berkurang
> menjadi setengahnya.
>
> Saat punya empat perusahaan, mungkin waktunya untuk
> satu perusahaan
> hanya tinggal dua sampai empat jam saja. Dan saat
> perusahaannya sudah
> mencapai ratusan, maka bisa jadi mereka hanya punya
> waktu lima sampai
> sepuluh menit untuk setiap perusahaan.
>
> Pada intinya, peningkatan di dalam kesuksesan dan
> kemajuan di dalam
> bisnis, justru berasosiasi dengan makin sedikitnya
> waktu mereka untuk
> semua upaya. Mereka makin sedikit bekerja, tapi
> justru makin sukses
> dan
> makin kaya.
>
> Bagaimana ini?
>
> Bagaimanakah Anda bisa memahami fenomena paradoksial
> seperti itu?
> Mengapakah ada orang yang bekerja keras dan makin
> keras, tapi nasib
> baik justru makin jauh berlari? Sebaliknya,
> mengapakah ada orang yang
> lebih santai, malah makin sukses dan makin sukses
> lagi?
>
> Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, apa yang akan
> Anda baca berikut
> ini, adalah ringkasan dari sebuah buku yang berjudul
> "The (Shocking!)
> Truth About Action". Di dalam judulnya ada kata
> "shocking". Itu bukan
> gertak sambal. Sebab, apa yang diulas di dalamnya,
> memang benar-benar
> akan mengguncang apapun yang Anda yakini selama ini
> tentang
> kesuksesan.
>
> Pada sub judulnya, bahkan dikatakan kurang lebih
> begini,
>
> "Ini semua adalah tentang bagaimana dan mengapa,
> nyaris segala yang
> Anda terima sebagai bahan pelajaran, di sepanjang
> hidup Anda, di
> sekolah, di rumah, dan di manapun, dari guru
> manapun, justru membangun
> tembok besar yang makin tinggi dan tebal, yang
> menjadi penghalang
> utama
> Anda mencapai kesuksesan."
>
> Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, ulasan berikut
> ini bisa
> memperjelas berbagai fenomena di atas. Dan seperti
> yang sudah Saya
> ingatkan, semua ini sangat mungkin bisa membuat Anda
> mengalami shock
> berat.
>
> KESALAHAN MENDASAR TENTANG ACTION
>
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org
http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar