kita ribut ribut soal CSR... perusahaan besar sering iklan CSR
menggambarkan berapa besar concern mereka terhadap kemiskinan,
environment ... padahal tanpa banyak ngomong... eh sejak zaman dulu
(1950) dipinggiran kota semarang dipecinan... ada tuh yang mau
mengurus sekolah gratis.. tis.. tanpa pandang siapa muridnya... contoh
yang baik... bagi kita semua... ternyata masih ada toh ... orang orang
seperti ini... siapa lagi ?
salam, rr - apwkomitel
note: bak software OSS yang juga gratis tis... sampai ada yang binun &
melakukan investigasi darimana dapat duitnya :-)
Tan Sing Loen, Meneruskan Tradisi Sekolah Gratis [kompas] ANTONY LEE
Jauh sebelum sekolah gratis ramai dibicarakan, sebuah sekolah di
daerah pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, sudah menerapkannya. Tidak
hanya untuk etnis Tionghoa, sekolah gratis ini didedikasikan bagi
semua golongan sejauh mereka tidak mampu. Sebagai Ketua Yayasan Khong
Kauw Hwee, Tan Sing Loen sudah belasan tahun mengelola sekolah ini.
Perkenalan Tan Sing Loen (74) dengan Yayasan Khong Kauw Hwee
sebenarnya sudah berlangsung sejak sekolah ini dirintis, sekitar tahun
1950.
Ketika itu, dia masih sekadar membantu mencarikan dana lewat
penyelenggaraan bazar. Keterlibatannya dengan yayasan itu pun semula
masih sekadar membantu. Sesekali dia terlibat langsung dengan kegiatan
sekolah sebab ketika itu Tan Sing Loen masih sibuk berdagang alat-alat
listrik di tokonya, juga di kawasan pecinan Semarang.
Pada tahun 1984 dia diminta untuk menjadi sekretaris yayasan. Lalu,
beberapa tahun kemudian dia menggantikan ketua yayasan yang meninggal
dunia.
Sekolah Kuncup Melati yang dikelola Tan Sing Loen ini sekilas tidak
berbeda dengan sekolah lain. Bangunan sekolah yang terletak di Gang
Lombok—kawasan pecinan Semarang—ini juga tak terlalu besar. Namun, di
sekolah ini ratusan anak tak mampu dari berbagai latar belakang
menimba ilmu tanpa dipungut bayaran sepeser pun. Dana operasional
sekolah ini semata-mata didapat dari para donatur.
Tak jarang pula, untuk membantu yayasan, para orangtua murid
menyempatkan diri turut membersihkan lingkungan sekolah. Ini karena di
sekolah tersebut tidak ada petugas kebersihan.
Pendidikan gratis yang hanya bermodal sumbangan dan kerelaan hati para
donatur ini terdiri atas taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar
(SD). Sudah sejak tahun 1950 sekolah tersebut membantu ribuan anak tak
mampu untuk mengenyam pendidikan. Pada tahun ajaran baru tahun ini
seluruh siswanya berjumlah 243 anak.
"Sekolah ini merupakan wadah pengabdian. Para murid tidak pernah
dipungut biaya apa pun. Namun, justru banyak donatur yang terketuk
hatinya untuk membantu," ungkap Tan Sing Loen akhir Juli lalu.
Bantuan yang diterima sekolah ini tidak selamanya berupa uang. Ada
pula masyarakat yang memberikan alat tulis, seragam, membantu membayar
rekening listrik, rekening telepon, atau memberi makanan. Pengurus
yayasan tak pernah menolak bantuan dalam bentuk apa pun.
Saat Kompas sedang berbincang dengan laki-laki yang sering dipanggil
Om Tan ini, seorang perempuan datang ke ruangan kepala sekolah. Dia
menawarkan diri untuk mengisi kekosongan guru bahasa Mandarin bagi
murid kelas enam, tanpa meminta bayaran.
"Entah dari mana dia dapat informasi bahwa kami kekurangan guru.
Tetapi, memang bantuan semacam ini juga sering datang meski kami tidak
pernah meminta. Dermawan selalu saja ada," tuturnya.
Setiap bantuan berupa barang diberikan langsung kepada para murid. Om
Tan menerapkan manajemen terbuka. Oleh karena itulah, setiap donatur
bisa langsung melihat untuk apa sumbangan yang diberikan.
Pengabdian dan sukarela
Menurut Om Tan, pengelolaan yayasan ini berpedoman pada prinsip
pengabdian dan sukarela. Hal ini pula yang mengawali berdirinya
sekolah tersebut pada tahun 1949. Berbekal sisa uang iklan buku
peringatan kelahiran Kong Hu Chu senilai Rp 800 dan sumbangan seorang
dermawan Rp 1.000, para perintis Khong Kauw Hwee membuat bangku dan
meja untuk kegiatan belajar mengajar.
Pada awal 1950 dibukalah kursus pemberantasan buta huruf yang diadakan
di lingkungan Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Masalah sempat
dihadapi akhir tahun 1960-an ketika salah seorang pendiri meninggal
dunia. Kondisi finansial sempat memburuk dan donatur pun tidak banyak.
Hampir saja sekolah ini ditutup.
Akan tetapi, pada awal 1970-an, alumni sekolah ini mencoba membentuk
panitia penyelamatan dan mereka bahu-membahu membangkitkan kembali
yayasan ini. Perbaikan terus dilakukan.
Pada saat Om Tan menjadi ketua yayasan, mengandalkan sumbangan dari
donatur, terkumpul sejumlah uang untuk mendirikan bangunan sendiri
untuk sekolah ini. Dua tahun waktu yang dibutuhkan hingga bangunan ini
berdiri tahun 1992. Bangunan sekolah TK dan SD Kuncup Melati yang baru
ini menempati lahan di sebelah barat Kelenteng Thay Kak Sie, berlantai
tiga, dan terdiri atas sembilan ruangan: dua ruangan untuk TK, enam
ruangan untuk SD, dan ruangan untuk tata usaha (TU).
Beragam pengalaman didapatkan Om Tan selama 13 tahun memimpin Khong
Kauw Hwee. Kesulitan sempat dialaminya saat sekolah yang mengandalkan
donasi ini murid-muridnya diminta membayar sejumlah uang oleh dinas
pendidikan pada periode 1990-an.
"Dinas pendidikan tidak percaya kalau sekolah ini benar-benar tidak
memungut bayaran dari murid. Saya juga diminta menghadap kepala dinas
ketika itu," cerita Om Tan.
Kesulitan ini pun akhirnya berganti menjadi uluran tangan bagi Om Tan
dan yayasan. Sang kepala dinas yang semula tidak percaya, setelah
mendapat penjelasan, justru berbalik terharu dan memberikan bantuan
buku-buku pelajaran. Kenangan ini sangat membekas dalam hati Om Tan.
Dia juga tidak pernah membeda-bedakan siswa yang akan masuk di sekolah
ini. Siapa pun dan dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat
bersekolah dan tak mampu, pasti diterima. Hal ini pula yang membuat
siswa sekolah ini tak hanya berasal dari etnis Tionghoa.
Om Tan merasakan sendiri bagaimana susahnya orang yang tak bisa
mengenyam pendidikan. Ia sendiri lulusan sekolah dasar.
Kedekatan
Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Para siswa tetap diberi materi
pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Bahkan,
mereka juga diberi tambahan pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin.
Prestasi siswanya juga tak buruk sehingga sekolah ini menduduki
peringkat menengah dari semua sekolah di Kota Semarang.
Meski tak pernah mendapat gaji, Om Tan tetap bahagia mengabdi di Khong
Kauw Hwee. Bayaran paling berharga baginya adalah tegur sapa dari para
orangtua murid dan kedekatan dengan mereka.
"Saya tidak gila hormat. Kalau saya yang sudah berusia 74 tahun ini
bisa membantu anak- anak tak mampu, itu membuat saya merasa berguna,"
ujarnya.
Belasan tahun bekerja tanpa bayaran hanya senyum tulus orangtua murid
dan pengabdian yang membuat Om Tan bertahan. Hal ini pula yang membuat
pria bersahaja ini selalu tersenyum setiap menjumpai seseorang.
Menurut Kepala SD Kuncup Melati Agustin Indrawati (47), sekalipun para
pengajar mendapatkan imbalan, tetapi jumlahnya sangat terbatas.
"Mengajar di sini lebih mengutamakan kepuasan batin," ungkap Agustin
Indrawati yang sudah 27 tahun mengabdi.
Meski 10 murid terbaik sekolah ini bisa melanjutkan ke SMP Mataram di
Semarang dengan gratis, Om Tan mengaku, sebetulnya ia ingin sekolah
Kuncup Melati ini bisa berkembang.
"Biar anak-anak tak mampu juga bisa sekolah sampai SMP, bahkan SMA,
tak cuma lulus SD saja," ungkapnya.
--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org
http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar