Selasa, 07 Agustus 2007

Sayang nama Kerajaan jadi nama Univ, gelar Akademik jadi Gelar kebangsawanan.Re: [APWKomitel] Kalian 50 juta rakyat, saya minta kamu insaf sedalam-dalam & berdiri utk bersatu

Dilihat dari sudut lain, kecendrungen memberi nama
Univ berasal dari nama "kerajaan " dan nama Tokoh masa
lalu sehingga gelar2 Akademik/ Dr, MSc, S2, S1 dan
Professor di selaraskan dengan "Gelar bangsawan baru"
dengan sebaris gelar di kartu nama, atau dipapan nama
kantor, atau di meja dinas di kantor.
Lihat nama2 Univ Sriwijaya, Andalas,Taruma
negara,Lambung Mangkurat,Brawijaya ,Erlangga,
Parahyangan, Diponegoro,Gajahmada dll.
Terakhir Setiyoso Gub Jakarta mendapar gelar
Dr.Honoris Causa dari Universitas Diponegoro sangat
meriah.......di Media massa.
Tapi,Wkl Presiden Kala juga dapat gelar Dr.HC dari
"Univ Malaya" ( bukan nama Kerajaan ) dari Malaysia
--- rrusdiah <rrusdiah@yahoo.com> wrote:

> Jangan Salahkan Indonesia BUDIARTO SHAMBAZY
> [kompas 7/8/2007]Saudara-saudaraku sebangsa dan
> setanah air, telah
> kutemukan! Tanpa perlu ke Belanda, saya menemukan
> setumpuk bukti
> sejarah sehabis menonton DVD Hindia-Belanda di
> Perang Dunia Kedua
> (Institut Dokumentasi Perang Belanda) tentang mooi
> Indie pada awal
> 1940-an.
>
> Temuan pertama saya yang menggemparkan persis
> seperti kata Ismail
> Marzuki. Indonesia tempat lahir beta/ tempat
> berlindung di hari tua/
> tempat akhir menutup mata.
>
> Saya enggak ngerti konglomerat hitam pilih Singapura
> jadi tempat
> berlindung sampai tua. Tetapi, saya paham kenapa
> ilmuwan KPU yang
> berjasa tetapi dipenjara minta Presiden tak "menutup
> mata" agar
> memberikan grasi kepada mereka.
>
> Temuan kedua saya yang menghebohkan adalah negara
> ini kaya. Banyak
> negara asing ataupun swasta internasional/ nasional
> bernafsu menguasai
> sumber-sumber daya alamnya, dan kini nyaris semuanya
> diobral pemerintah.
>
> Temuan ketiga saya yang mengejutkan adalah Batavia
> dan Soerabaja
> bersih. Lain dengan kota masa kini yang penuh
> billboard dan spanduk,
> pasar tumpah, dan sejuta angkot.
>
> Temuan keempat saya yang mendebarkan ialah penduduk
> awal 1940-an
> sekitar 70 juta jiwa. Batavia enggak ramai seperti
> saat jutaan
> "pengacara" (penganggur banyak acara) ikut kampanye
> Pilgub DKI pekan lalu.
>
> Temuan kelima saya yang mencengangkan adalah Batavia
> penuh monumen
> bersejarah. Ada De Harmonie nan megah, Des Indes
> yang indah, atau
> Menteng yang tertata.
>
> De Harmonie jadi tempat parkir istana, Des Indes
> jadi tempat belanja,
> dan Menteng yang mesti dilestarikan malah
> "diperkosa".
>
> Temuan keenam saya yang di luar perkiraan adalah
> bangsa sini suka
> tersenyum, termasuk orang Betawi di pasar serta
> Sultan Maluku dan
> istri. Tak ada demonstran antikeberagaman, tarian
> cakalele ala RMS,
> apalagi amok massa.
>
> Temuan ketujuh saya yang mengagumkan, ada potongan
> pidato Panglima
> Armada Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto. "Kalian 50
> juta rakyat, saya
> minta kamu insaf sedalam-dalamnya dan berdirilah
> untuk bersatu."
>
> Rupanya Belanda dan Jepang dari dulu setengah mati
> memohon agar bangsa
> ini bersatu. Mereka tahu bangsa ini lebih percaya
> "bersatu kita
> runtuh, bercerai kita teguh".
>
> Temuan kedelapan saya yang menggembirakan adalah
> Bung Karno
> mengenalkan slogan "Amerika kita setrika, Inggris
> kita linggis".
> Slogan rezim saat ini, "Kita kasih semua ke Amerika,
> lalu kita
> mengemis dari Inggris".
>
> Temuan kesembilan saya yang mengharukan, Jepang
> merekrut para pemuda
> jadi tentara Peta pelahap bento dan ikut lomba sumo.
> Tentara memang
> dilarang "melahap" rakyat, apalagi berlomba menaruh
> kakak, adik, atau
> ipar di pos-pos bergengsi.
>
> Temuan kesepuluh saya yang menyenangkan adalah para
> pelajar di Situ
> Lembang, Menteng, bersepeda atau jalan kaki menuju
> Sekolah Rakjat
> Akebono. Maklum, belum ada motor.
>
> Temuan kesebelas saya yang mendebarkan pemimpin dulu
> penutur bahasa
> Indonesia, Belanda, Jepang, dan Inggris sekaligus.
> Mereka bukan kayak
> pemimpin sekarang yang berkelas penutur alias pandai
> berteori.
>
> Dan, temuan yang keselusin atau yang terakhir
> merupakan "ibu dari
> segala temuan" (mother of invention). Ini temuan
> saya yang amat sangat
> diandalkan.
>
> DVD itu berisi adegan rakyat gembira bernyanyi
> Indonesia Raya versi
> asli 17 Agustus 1945! Waktu SD kaki saya pegal saat
> menyanyikan
> extended version-nya dan kepala pusing waktu
> menghafal liriknya.
>
> Lagu kebangsaan Inggris, God Save the Queen,
> dipotong untuk menghemat
> waktu saat acara penerimaan medali olimpiade. Apakah
> lirik Indonesia
> Raya disingkat karena alasan itu, emangnya gua
> pikirin.
>
> Di banyak negara bendera dibakar atau jadi bikini.
> Saya ingat tahun
> lalu polisi kurang kerjaan menahan warga yang tak
> mengibarkan bendera
> pas 17 Agustus.
>
> Lebih kurang kerjaan mereka yang membakari buku
> pelajaran di Depok.
> Bangsa ini menganggap sejarah kayak semen atau paku
> di "toko
> material", cuma kenal barangnya tanpa paham
> maknanya.
>
> Makanya banyak yang ngiler kepada Mahaputra alias
> suka pamrih. Makanya
> tak satu pun pejabat mengucapkan duka saat Chrisye
> meninggal dunia
> beberapa bulan lalu.
>
> Banyak yang ingin dimakamkan di Kalibata. Namun, tak
> sedikit pahlawan
> tak sudi ada di satu kompleks dengan terpidana
> korupsi yang dikubur di
> sana.
>
> Saya bukan pakar yang gemar bikin gempar. Saya bukan
> "penggiat",
> "penggagas", "pemerhati", atau "peminat" lagu
> kebangsaan, apalagi
> calon politisi "indie".
>
> Namun, waktu isu "indie" lagi hangat, saya tanya
> pengurus Gerakan
> Jakarta Merdeka (GJM) dalam sebuah diskusi.
> "Emangnya Jakarta belum
> merdeka? Siapa sih yang menjajah?"
>
> Sejak akhir 1950-an saya dua kali tinggal di Jakarta
> Selatan, sekali
> di Jakarta Barat, dan dua kali punya KTP Jakarta
> Pusat. Selama
> setengah abad enggak ada tuh yang nekat menjajah Ibu
> Kota.
>
> Oh, ternyata GJM tak mau kalah sama Gerakan Aceh
> Merdeka (GAM). Wah,
> pakar pun mau angkat senjata.
>
> Pakar A berteori RI "negara gagal", pakar B bilang
> RI "demokrasi belum
> jadi". Pemimpin jual negara, pejabat korupsi,
> politisi enggak becus,
> pengusaha tak tahu untung, dan ada kelompok yang
> "ingin tampil beda".
>
> Namun, jangan salahkan Indonesia. Kalau tak suka,
> mengutip slogan
> terkenal Bung Karno, "You can go to hell".
>
> Dan, Ismail Marzuki menambahkan, Indonesia tanah air
> beta, pusaka
> abadi nan jaya/ Indonesia sejak dulu kala/ tetap di
> puja-puja bangsa.
> Merdeka!
>
>

____________________________________________________________________________________
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7


--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org

http://www.milenia.net

http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: