Jumat, 14 September 2007

[APWKomitel] FYI: Masyarakat Sampah ?

for your attentions, thanks god its friday...
--- Naswil Idris <naswil@yahoo.com> wrote:

> Note: forwarded message attached.
> From: rektor@ui.edu
> To: ekosh@ui.edu
> CC: Presiden RI SBY <pie@esdm.go.id>,
> Presiden DR SBY <setjen@depkehham.go.id>,
> Menteri Riset Teknologi <menristek@ristek.go.id>,
> MenKeu MenkoEkon Dpt Keuangan
> <helpdesk@depkeu.go.id>,
> Gubernur Dewan Gubernur Bank Indonesia
> <humasbi@bi.go.id>,
> irwanid2002@yahoo.com, warek1@ui.edu,
> humas@unpad.ac.id,
> umugm@ugm.ac.id, awal@ipmimba.ac.id,
> webmaster@fe.unibraw.ac.id,
> hww7536@attglobal.net, set_komisi1@dpr.go.id,
> set_komisi2@dpr.go.id,
> set_komisi3@dpr.go.id, set_komisi4@dpr.go.id,
> set_komisi5@dpr.go.id,
> set_komisi6@dpr.go.id, set_komisi7@dpr.go.id,
> set_komisi8@dpr.go.id,
> set_komisi9@dpr.go.id, set_komisi10@dpr.go.id,
> set_komisi11@dpr.go.id, bamus@dpr.go.id,
> mtambang@yahoo.com,
> naswil@yahoo.com, irawadi@ipmimba.ac.id,
> ranadireksa@hotmail.com,
> bdorpi@indosat.net.id, tengkuhp@yahoo.com,
> Sugeng Saryadi <ss@cps-sss.org>, Sri-Edi Swasono
> <swasono@yahoo.com>, sjahrir@rad.net.id,
sekretariat@republika.co.id,
> "Rektor Univ. Pelita Harapan"<infomhs@uph.edu>,
> Rektor UKRIDA <humas@ukrida.ac.id>, Rektor UKI
> <rmb@uki.ac.id>,
> Rektor Atmajaya <pr@atmajaya.ac.id>,
> redaksi@mediaindonesia.co.id,
> pr@sctv.co.id, lsmlawoffice@lsm86law.com,
> Kwik Kian Gie <kkg@indo.net.id>,
> koransp@suarapembaruan.com,
> jktpost2@cbn.net.id, infid@infid.org,
> icwmail@rad.net.id,> hartati@lpem-feui.org,
> Farid Prawiranegara <prawiranegara@indoconsult.net>,
> Dewan Mahaguru ITB <info-center@itb.ac.id>,
> "Dewan Mahaguru FakEkon. GAMA"
> <feugm@wasantara.net.id>,
> "Dewan Mahaguru Fak.Ekon.-UI" <dean@fe.ui.edu>,
> csis@csis.or.id,
> cservice@metrotvnews.com, corpsecr@indosiar.com,
> kepala@lipi.go.id,
> iso@itb.ac.id, webmaster@che.itb.ac.id,
> satyo@dunamis.co.id,
> jtsmor@centrin.net.id, Kash0001@rad.net.id
> Subject: Re: Masyarakat Sampah
>
> Quoting HMT Oppusunggu <humtiarti@hotmail.com>:
>
> > KABINET SBY MENJATUHKAN NEGARA INI
> > MEJADI REPUBLIK YANG BODOH DAN TOLOL
> > Tidak pernah seperti dalam zaman modern sekarang
> ini, alam begitu
> > terbuka bagi kita. Rahasia alam yang dulu-dulunya
> begitu gelap bagi
> > nenek-moyang kita, sekarang ini terbuka luas dan
> menjadi pengetahuan
> > umum bagi murid-murid tamatan SD sekalipun.
> Melalui setiap
> > perangkat buku ilmu pelajaran, setiap
> laboratorium dan setiap mesin
> > bisa berbicara dengan kita untuk menjelaskan
> rahasia tadi.
> > Pemakaian teknologi dari alam sendiri sekaligus
> merupakan ungkapan
> > dari rahasia alam itu sendiri.Dengan kata lain,
> dalam zaman modern
> > sekarang ini akal dan pikiran ilmiah manusia telah
> mendengar dan
> > mengerti suara alam itu dan oleh karenanya sanggup
> menaklukkan dan
> > menguasai alam itu.
> > Tapi, apakah cukup dengan hanya mendengar dan
> menguasai alam itu
> > saja? Tidak cukup. Kita harus ilmuwan-plus,
> insinyur-plus,
> > biolog-plus, ekonom-plus, sarjana-plus,
> politisi-plus dsb.
> > Seorang ahli bilogi tentu saja mengetahui semua
> yang dikatakan
> > ilmunya tentang segala sesuatunya mengenai sebuah
> pohon. Tapi jika
> > dia seorang biolog-plus dia akan ingin mengetahui
> dan bertanya apa
> > arti pohon itu bagi dirinya sendiri. Dia ingin
> mengetahui tujuan
> > hidup dari pohon tersebut yang begitu asing dan
> sangat sukar baginya
> > untuk mendekatinya. Biolog-plus ingin mengetahui
> secara mendalam
> > tentang hakikat kehidupan alamiah. Dan untuk itu
> menjadi keharusan
> > baginya supaya secara mendalam berhubungan dan
> bercakap-cakap
> > dengan alam. Tapi apakah komunikasi seperti itu
> pernah diusahakan
> > semua para ilmuwan dan cendekiawan kita? Bukankah
> alam itu
> > sepenuhnya bisa ditundukkan pada kemauan dan
> kesengajaan manusia
> > modern sekarang ini? Sekarang ini kita
> bangga-banggakan peradaban
> > teknik dan teknologi, namun dalam penerapan
> teknologi tsb kita
> > terlalu sering tidak menyadari lagi bahwa dalam
> pada itu kita telah
> > merusak ciri-ciri dan hakikat asli alam, tanah,
> hewan dan
> > tumbuh-tumbuhan.
> > Bila kita gantikan 'alam' dengan 'masyarakat' atau
> 'rakyat', yang
> > juga bagian integral dari alam semesta, maka kita
> sedianya harus
> > bertanya-tanya juga: Apa berbeda akibat dari
> keahlian dan teknik
> > yang dipakai mengendalikan alam itu dengan yang
> ditimbulkan teknik
> > dan keahlian pimpinan yang kita terapkan selama
> ini? Bukankah
> > setelah dapat menguasai dan mengendalikan
> sepenuhnya hidup rakyat
> > berbangsa dan bernegara di satu pihak, tapi di
> lain pihak kita
> > sementara itu telah merusak ekologi dan ekonomi
> rakyat? Dapatkah
> > kita akui bahwa kelirunya penerapan keahlian kita
> bisa menjadi biang
> > kerok dari timbulnya suatu malapetaka? Kesalahan
> kita seperti tadi
> > sering akan timbul, apabila kita tidak
> mempedulikan lagi hubungan
> > dan komunikasi dengan rakyat? Oleh karenanya bila
> hendak menjadi
> > cendekiawan atau pemimpin-plus:
> > ALWAYS COMMUNE WITH YOUR PEOPLE.
> > Tidak dapat disangkal bahwa yang berlangsung
> selama ini adalah
> > merajalelanya nafsu dan kuasa untuk mendominasi
> dan mengexploitasi
> > alam dan rakyat sendiri. Elite pimpinan dan
> Imperium Korupsi, yang
> > meraja-lela dengan tsunami pasar gelap dan dagang
> sapinya, telah
> > membuat rakyat tidak sanggup lagi hidup dengan
> alam sekelilingnya.
> > Para pimpinan menyelubungi kenyataan tersebut
> dengan mengkoarkan
> > banyak omong kosong dan retorika. Ketimbang
> memalingkan telinga
> > untuk mendengarkan suara musik indah dari hidup
> rakyat, kita
> > malahan melecehkan mereka sambil kita tinggal
> terbenam menciptakan
> > aneka ragam jeritan rakyat. Dahsyatnya tsunami SBY
> mengangkat para
> > elite pimpinan kita terpisah dari bumi dan maju
> terus ke muka tanpa
> > melihat sedikitpun bayang-bayang dari hidup
> rakyat dan tanpa ada
> > lagi waktu dan hasrat pimpinan tsb untuk
> berkomunikasi dengan
> > mereka. Sama sekali tidak kelihatan lagi adanya
> hasrat untuk
> > menyelami, mengerti dan merasakan apakah dewasa
> ini rakyat masih
> > memiliki daya hidup. Mereka justru dianggap sepi
> bagaikan sampah
> > yang tidak memerlukan bimbingan dan pimpinan
> apa-apa.
> >
> > Siapa nyana paru-paru manusia di Indonesia sudah
> dibabat dan dirusak
> > habis-habisan, hingga Indonesia harus mengalami
> banjir setiap tahun
> > selama 50 tahun mendatang? Siapa sangka hampir
> satu juta rakyat
> > dibiarkan para pemimpin diperbudak sebagai
> koeli-kontrak, dipukuli
> > bahkan diperkosa karena mereka merasa tidak
> sanggup lagi menerima
> > penderitaan yang ditimpakan pimpinan bangsa
> sendiri yang
> > mentelantarkan mereka tanpa diberi pekerjaan dan
> makan, sekalipun
> > negara sendiri begitu kaya raya? Dan nyatanya
> kekayaan tadi
> > diperuntukkan bagi 20 juta penduduk kaya saja,
> sedang 200 juta -the
> > silent majority- tinggal dibenamkan dalam tsunami
> SBY. (Baca
> > selanjutnya tentang penderitaan rakyat ini dalam
> buku: Tsunami
> > Bangsa Ini. Mengerikan dan Menyengsarakan Rakyat
> Indonesia). Siapa
> > nyana para ibu dan anak-anak harus antre
> berjam-jam untuk
> > memeperoleh minyak tanah, minyak goreng, Raskin
> dan Bantuan Langsung
> > Tunai dll Sama saja keadaannya seperti dalam
> zaman perang, hanya
> > karena monopolis palsu Pertamina dan para produsen
> konglomerat
> > diberi kesempatan penuh oleh SBY untuk memperoleh
> laba yang lebih
> > besar dari kesempitan yang sengaja diciptakan.
> Laba dari kesempitan
> > tadi sekaligus dibagi-bagikan pada elite pimpinan
> rakyat. Siapa
> > nyana bertambahnya ribuan rakyat menjadi
> pengemis, pemulung dan
> > bermukim di kolong jembatan dan dipinggir sungai
> jorok dan dibiarkan
> > bernafas sempoyongan dalam Lumpur Sidoarjo,
> sekalipun Indonesia
> > kaya valas yang sebenarnya dapat dipakai untuk
> membantu dan
> > meringankan penderitaan rakyat tadi? Siapa sangka
> Kabinet SBY
> > begitu kejam membiarkan kekayaan berlimpah-limpah
> -triliunan $-
> > dari Papua dibabat dan dijarah habis oleh
> investor konglomerat
> > asing dan dalam negeri, sedang rakyat Papua
> sendiri didiskriminasi
> > Pemerintah dan dibiarkan hidup dalam zaman
> batu-batuan sebagai
> > objek-wisata mempertontonkan cawat, bugil-dada
> dan koteka? Siapa
> > duga otak bangsa Indonesia bisa dibius dan
> ditumpulkan para elite
> > pimpinan kita dan berada jauh di bawah otak
> bangsa Malaysia atau
> > Thailand, hingga pembangunan ekonomi kita sudah
> jauh ketinggalan di
> > belakang yang dicapai negara-negara ASEAN.
> Bahkan Republik ini
> > sudah dijatuhkan Kabinet SBY menjadi Republik
> yang bodoh dan tolol.
> > Dulunya, Republik ini bisa diselamatkan dari
> kehancuran sekalipun
> > dibelenggu oleh megalomania Sukarno atau oleh
> kediktatoran Suharto.
> > Tapi sekarang, apakah Republik ini bisa
> diselamatkan dari kebobrokan
> > pemerintahan SBY?
> >
> > A. Biasanya yang dijadikan Gubernur dari Bank
> Sentral di negara
>
=== message truncated ===

____________________________________________________________________________________
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!

http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7

--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org

http://www.milenia.net

http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: