Mengapa Diam Seribu Bahasa?
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
Personal Growth & Soft Skills Training
Ditayangkan di KOMPAS, 8 September 2007
Dalam dunia bisnis maupun spionase internasional, kerap kita saksikan
kejadian "whistle-blowing" alias 'tukang mengadu', yang mengakibatkan
beberapa CEO dan pejabat terkemuka, tercoreng mukanya, dipecat, atau
bahkan
masuk penjara. Bagaimana reaksi dunia terhadap si pelapor? Apakah
orang-orang di lingkungan kerja bersimpati dan menganggapnya pahlawan?
Kenyataannya tidak demikian. Tidak semua orang bisa merespek seorang
pelapor
dan menyatakan salut, walaupun nyata-nyata yang dilaporkan adalah
kenyataan
yang perlu dikuakkan demi kebenaran. Di dalam hati kecil akan ada saja
orang
yang berpikir, "Wah, orang ini makan teman".
Inilah nasib yang banyak dialami perusahaan sebagai suatu institusi. Kita
sama-sama tahu dan mengerti bahwa data dan fakta adalah milik perusahaan
atau lembaga. Kita pun tahu bahwa saat sekarang "knowledge" dan informasi
sudah disadari sebagai aset berharga. Namun tetap saja, berita-berita
"underground", gosip, ketidakpuasan karyawan, apalagi masukan, tidak
gampang
didapatkan manajemen pada "timing" yang tepat. Padahal, baik pihak
manajemen maupun karyawan sangat-sangat mengerti bahwa informasi, kritik
bahkan "brutal facts", adalah hal yang memang harus dan wajib
dikontribusikan ke perusahaan.
Ada komentar begini,"Kalau aku jujur sama pak Andi, CEO kita, bahwa produk
kita jelek, wah, bisa dipecat aku". Ini adalah resiko yang dipersepsi oleh
karyawan, sehingga individu memilih diam seribu bahasa daripada menghadapi
risiko dipecat atau tidak disukai. Apakah salah bila ada tindakan cari
selamat dengan bersemboyan "silence is golden"? Di lembaga-lembaga yang
sudah kokoh dan berbirokrasi kuat, tindakan cari aman ini sudah demikian
membudaya sehingga komunikasi ke atas, bisa dikatakan sangat langka,
apalagi
bila menyangkut masukan ke atasan, teman sekerja, bagian lain atau ke
perusahaan.
Rasa Memiliki Perlu Ditinjau Ulang
Apa yang akan kita lakukan bila baju kesayangan kita terkena noda kecap
ketika sedang makan siang? Kita pasti akan panik dan berusaha keras
menghapusnya. Bagaimana bila kita melihat baju orang lain yang tidak
terlalu
kita kenal yang terkena noda kecap? Kita mungkin akan membantu tetapi
tentunya tidak sepanik bila baju kesayangan kita yang terkena. Dalam dunia
kerja, tidak sedikit karyawan yang 'berjarak' dengan perusahaan, tidak
melihat dirinya bagian dari baik - buruk, susah - senang, dan untung -
ruginya perusahaan. Karenanya, ia merasa bahwa bekerja baik saja sudah
cukup. Saat rasa memiliki tidak hadir dalam diri karyawan, maka kepedulian
dan inisiatif untuk buka mulut dan berantisipasi dianggapnya sebagai
"bonus"
bagi perusahaan yang akan disampaikan hanya bila situasi benar-benar
'aman'.
Seorang "biang gosip" di sebuah perusahaan mengatakan,"Kalau tidak sayang
pada perusahaan, saya sudah keluar dari kantor ini. Pimpinannya tidak
berwibawa, banyak ketidakadilan, peraturan tidak jelas...". Ketika digali
lebih lanjut, mengapa ia tidak berjuang demi perbaikan perusahaan dan
tidak
hanya mengeluh saja, ia dengan mudah mengatakan, "Ah, kita kan tidak ada
otoritas untuk melakukannya. Petinggi-petinggi itulah yang punya tanggung
jawab untuk memperbaiki perusahaan. Kita-kita ini kan cuman bawahan".
Benarkah pernyataan itu? Atau ini hanya kenyataan yang harus dihadapi
perusahaan bahwa kepedulian karyawan terkadang hanya sebatas komentar,
bukan
masukan, niat dan energi, apalagi pengorbanan untuk memperbaiki
perusahaan.
Buat Situasi Kondusif untuk Bicara
Serorang pimpinan perusahaan membuat peraturan bahwa bila ada orang
berbuat
salah, maka teman yang tahu dan atasannya pun akan segera dipecat. Maka,
ketika ada seorang karyawan yang tertangkap basah bermain game di waktu
kerja, rekan yang duduk disebelahnya kemudian dipecat juga. Alasannya,
teman
si pemain game itu semestinya melaporkan perbuatan yang merugikan ini ke
perusahaan. Ini namanya pelanggaran. Hal yang perlu dicermati adalah,
apakah
hukuman seperti ini bisa membuat karyawan lain langsung bergerak untuk
bicara dan melapor bila ada kejadian serupa?
Kita mungkin pernah memaksa seorang anak kecil untuk mengatakan
sesuatu dan
tidak berhasil. Situasi seperti inilah dihadapi perusahaan yang
menginginkan masukan tetapi tidak berupaya untuk membuat suasana yang
memungkinkan orang merasa aman ketika memberi masukan. Suasana
kondusif ini
hanya dimungkinkan bila ada komitmen yang jelas dari manajemen puncak
bahwa
perusahaan membutuhkan masukan dan akan menggarapnya dengan cara yang
positif.
Di sebuah pertemuan saya berpapasan dengan seorang supervisor pabrik yang
memakai pin di dadanya:"Bad news = good news". Ketika saya tanyakan spirit
dibalik pin tersebut, ia menceriterakan bahwa "bad news" pertama yang
disampaikan karyawan ke manajemen akan mendapat hadiah. Dengan demikian
budaya "lapor" dan akhirnya "peduli" akan terbentuk. Para manajer perlu
berlatih untuk me-"welcome" masukan. Seperti kita sama-sama tahu, teknik
mendengar dan menerima kritik sudah kita kenal teorinya, sudah banyak
pelatihannya, tetapi keberhasilan, pengembangan sikap dan keluarannya
sungguh perlu di buktikan. Sistem komunikasi ke atas seperti kotak pos,
alamat email khusus keluhan juga bisa diupayakan, namun mesti dijaga
konsistensi respons dari manajemennya.
EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl.Tb. Simatupang
Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax. 021-7590 6442
<http://www.experd.org> http://www.experd.org
--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org
http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar