ini khan juga bakanan jadi sodara anak anak kita... generasi muda
Indonesia... lho ... any body care... or what is it 4 me ?
Kemiskinan: Kisah Anak-anak Stasiun [Kompas] Neli Triana
"Saya pernah ditangkap polisi dan ditahan dua hari di Surabaya karena
mencuri uang. Saat itu saya baru saja tiba di Surabaya ikut kereta api
dari Jakarta. Setelah dibebaskan, balik lagi ke Jakarta menumpang
kereta," kata Adam sambil mengelus bekas luka di dahinya akibat
dipukul dengan batu oleh orang-orang yang geram.
Adam yang mengaku berasal dari Bogor, Jawa Barat, itu hidup berkelana
dari satu stasiun ke stasiun lain di Bogor, Jakarta, dan Bekasi. Di
usia yang baru 12 tahun, ia bahkan mengaku pernah naik gerbong kereta
api sampai ke ujung Jawa di Merak, Banten, dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Dia bertemu banyak orang sesama penghuni stasiun, termasuk dengan Tori
Sunanto (15), dan Aldi Aryadi (20).
Bersama kedua temannya itu, Adam terduduk di ruang rapat Kantor Pusat
Pelayanan Reservasi Tiket Juanda, Senin (30/7) sekitar pukul 10.00
hingga menjelang pukul 14.00. Mereka sengaja diboyong ke Juanda untuk
diperiksa pihak PT Kereta Api setelah tertangkap petugas keamanan
kereta api di Stasiun Kranji, Bekasi.
Di Kranji mereka tertangkap basah menghentikan laju kereta secara
mendadak, dengan mencungkil rem darurat dan kemudian mencopet
penumpang. Itu adalah modus kejahatan yang telah mereka lakukan
sepanjang tiga tahun terakhir.
Berbeda dengan Adam dan Aldi yang cenderung diam saat diperiksa, Tori
selalu ceria dan lancar menjawab setiap pertanyaan. Saat petugas PT
Kereta Api memberi nasi menjelang tengah hari, senyuman langsung
mengembang di wajah remaja laki-laki berbaju dekil tanpa alas kaki itu.
Dengan bersemangat, dia membagi dua bungkus nasi itu kepada kedua
temannya. Aroma harum nasi bercampur lauk-pauk segera tercium.
"Wah, nasi padang. Kapan lagi makan enak seperti ini," seru remaja
yang lebih sering menghabiskan hari-harinya di Stasiun Tebet, Jakarta
Timur, itu.
Tori memilih hengkang dari rumah orangtuanya di Kebon Baru, Jakarta
Timur, karena bosan melihat bapaknya, seorang sopir bajaj, yang tidak
pernah punya uang.
Mereka hidup miskin dengan lima anak. Setidaknya, dengan hidup di
stasiun, Tori mampu mendapat penghasilan minimal Rp 10.000. Ia pun
tidak lagi pernah pulang.
Dipenjara
Tori tak luput dari pengalaman hidup di penjara. Ia dinyatakan
bersalah karena tertangkap mencuri di sebuah tempat perbelanjaan di
Tangerang. Akibatnya, ia harus mendekam selama satu tahun di lembaga
pemasyarakatan khusus anak-anak di Tangerang, Banten.
Kehidupan di penjara atau panti sosial diakrabi anak-anak gelandangan
di stasiun. Aldi, misalnya, sudah lebih dari tiga kali bolak-balik
mendekam di balik jeruji besi.
Awalnya, Aldi hanya pencuri kecil-kecilan dan harus menjalani
"pendidikan" di Panti Sosial Kedoya selama berbulan-bulan. Akhir tahun
2006 ia tertangkap saat sedang menyuntikkan sejenis obat-obatan
terlarang ke lengannya. Kini ia pelaku utama kejahatan yang
membahayakan nyawa ratusan orang.
Trio Adam, Tori, dan Aldi pertama kali bergabung dan beraksi nekat
menarik rem darurat sambil mencopet setelah bertemu Robi alias Dadang
(20) sekitar tahun 2004. Robi, yang juga menggelandang di Stasiun
Kota, Jakarta Barat, selalu siap dengan rencana dan strategi, termasuk
menentukan penarik rem dan pencopet saat akan beraksi di atas kereta.
Sasaran mereka adalah KRL maupun kereta api jarak jauh kelas ekonomi
dan bisnis karena jarang dijaga petugas keamanan. Mereka pun bisa
leluasa masuk ke kereta kelas ekonomi dan bisnis.
Menurut Tori, anggota Robi tidak hanya mereka, tetapi juga ada
beberapa kelompok kecil lainnya. Setiap kali selesai beraksi, hasil
dari mencopet diserahkan kepada Robi. Pemimpin mereka inilah yang
membagi- bagikan uang.
Belasan dompet
Menurut Tori, saat bernasib baik, hanya dengan sekali menarik rem
darurat, mereka mampu mengumpulkan belasan dompet.
"Buat senang-senang saja. Paling untuk makan dan membeli rokok.
Pokoknya, uang yang didapat pasti bakal cepat habis dan kami mencopet
lagi atau bertahan dengan menjadi tukang sapu gerbong kereta," kata Adam.
Komplotan ini menentukan daerah operasi di Stasiun Kota, Senen,
Manggarai, Cikini, Tebet, dan beberapa stasiun lain di Bekasi, seperti
Kranji. Sabtu (21/7), aksi mereka menyebabkan sebuah KRL menerobos
masuk ke peron karena tidak bisa direm.
Selain membahayakan ratusan nyawa orang yang berada di stasiun,
kerusakan peralatan PT Kereta Api akibat perbuatan mereka senilai
lebih dari Rp 40 juta.
Aldi, Adam, dan Tori adalah bagian dari sekian banyak anak yang
menggelandang hidup di stasiun-stasiun kereta di Jakarta.
Sebagian dari mereka, seperti di Stasiun Kota, Manggarai, dan Cikini,
Selasa (31/7), menjadi penyapu gerbong, pengemis, penyemir sepatu,
atau pemulung.
Berpakaian dekil, mereka selalu tampak hilir mudik atau sekadar
nongkrong di sepanjang rel kereta, bergeletakan di lantai peron, tidur
di ruang kosong yang tersisa di stasiun, termasuk di dalam gerbong kereta.
"Agak hati-hati sekarang, takut nanti ikut ditangkap. Dipenjara atau
dimasukkan panti sosial di Kedoya sebenarnya tidak masalah. Cuma,
malas saja diperiksa berjam-jam," kata Arifin (13), penyapu gerbong
yang ditemui di Stasiun Kota, Selasa.
Arifin mengaku sudah mendengar kabar ditangkapnya tiga pelaku penarik
rem darurat di Stasiun Kranji. Ia mengatakan, di stasiun-stasiun juga
ada komplotan pencopet yang berpura- pura menjadi penyemir sepatu atau
memulung seperti dirinya.
Arifin bercerita, dirinya pernah dipukuli hingga babak belur dan
kepalanya terus pusing selama satu minggu karena kedapatan mengambil
dompet. Sejak itu, ia takut mencopet lagi.
Jika Arifin memutuskan berhenti dan konsentrasi menjadi penyapu
gerbong, trio Adam, Aldi, dan Tori hingga kini masih menunggu putusan
nasib selanjutnya. Pihak PT Kereta Api menyerahkan ketiganya ke
Kepolisian Resor Metro Bekasi.
Kemungkinan besar, nasib mereka akan kembali berakhir di panti sosial
atau penjara, seperti siklus kehidupan yang telah dijalani sebelumnya
tanpa ada perubahan lebih baik
--
mailing list sponsor: http://www.apwkomitel.org
http://www.indopc.com
==
To visit your group , klik: http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/APWKomitel/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:APWKomitel-digest@yahoogroups.com
mailto:APWKomitel-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
APWKomitel-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar